Minggu, 15 November 2015

ASUHAN KEPERAWATAN MENORARGIA




ASUHAN KEPERAWATAN MENORARGIA


Dosen Pembimbing :
Ns.Vevi, S.kep,M.kep
Disusun Oleh :
Kelompok 1
kelas : A (Semester III)

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAITURRAHIM JAMBI
2014/2015

ASUHAN KEPERAWATAN MENORARGIA

1. Definisi Menstruasi
Menstruasi adalah perdarahan vagina secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus. Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus, hipofisis, dan ovarium dengan perubahan terkait pada jaringan sasaran pada saluran reproduksi normal, ovarium memainkan peranan penting dalam proses ini, karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan – perubahan siklik maupun lama siklus menstruasi (Greenspan et al, 1998).
Menstruasi adalah keluarnya darah melalui vagina, yang berasal dari rahim, berlangsung secara teratur, sebagai aspek dari kerja hormon-hormon retorik (Yanto Kadarusman,2000).
Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan pendarahan dan terjadi setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang terjadi terus menerus setiap bulannya disebut sebagai siklus menstruasi. menstruasi biasanya terjadi pada usia 11 tahun dan berlangsung hingga anda menopause (biasanya terjadi sekitar usia 45 – 55 tahun). Normalnya, menstruasi berlangsung selama 3 – 7 hari.

2. Siklus menstruasi
                        Siklus menstruasi bervariasi pada tiap wanita dan hampir 90% wanita memiliki siklus 25 – 35 hari dan hanya 10-15% yang memiliki panjang siklus 28 hari, namun beberapa wanita memiliki siklus yang tidak teratur dan hal ini bisa menjadi indikasi adanya masalah kesuburan.
Panjang siklus menstruasi dihitung dari hari pertama periode menstruasi hari dimana pendarahan dimulai disebut sebagai hari pertama yang kemudian dihitung sampai dengan hari terakhir – yaitu 1 hari sebelum perdarahan menstruasi bulan berikutnya dimulai.
Seorang wanita memiliki 2 ovarium dimana masing-masing menyimpan sekitar 200.000 hingga 400.000 telur yang belum matang/folikel (follicles). Normalnya, hanya satu atau beberapa sel telur yang tumbuh setiap periode menstruasi dan sekitar hari ke 14 sebelum menstruasi berikutnya, ketika sel telur tersebut telah matang maka sel telur tersebut akan dilepaskan dari ovarium dan kemudian berjalan menuju tuba falopi untuk kemudian dibuahi. Proses pelepasan ini disebut dengan “OVULASI”.
Pada permulaan siklus, sebuah kelenjar didalam otak melepaskan hormon yang disebut Follicle Stimulating Hormone (FSH) kedalam aliran darah sehingga membuat sel-sel telur tersebut tumbuh didalam ovarium. Salah satu atau beberapa sel telur kemudian tumbuh lebih cepat daripada sel telur lainnya dan menjadi dominant hingga kemudian mulai memproduksi hormon yang disebut estrogen yang dilepaskan kedalam aliran darah. Hormone estrogen bekerjasama dengan hormone FSH membantu sel telur yang dominan tersebut tumbuh dan kemudian memberi signal kepada rahim agar mempersiapkan diri untuk menerima sel telur tersebut. Hormone estrogen tersebut juga menghasilkan lendir yang lebih banyak di vagina untuk membantu kelangsungan hidup sperma setelah berhubungan intim.
Ketika sel telur telah matang, sebuah hormon dilepaskan dari dalam otak yang disebut dengan Luteinizing Hormone (LH). Hormone ini dilepas dalam jumlah banyak dan memicu terjadinya pelepasan sel telur yang telah matang dari dalam ovarium menuju tuba falopi. Jika pada saat ini, sperma yang sehat masuk kedalam tuba falopi tersebut, maka sel telur tersebut memiliki kesempatan yang besar untuk dibuahi.
Sel telur yang telah dibuahi memerlukan beberapa hari untuk berjalan menuju tuba falopi, mencapai rahim dan pada akhirnya “menanamkan diri” didalam rahim. Kemudian, sel telur tersebut akan membelah diri dan memproduksi hormon Human Chorionic Gonadotrophin (HCG). Hormone tersebut membantu pertumbuhan embrio didalam rahim.
Jika sel telur yang telah dilepaskan tersebut tidak dibuahi, maka endometrium akan meluruh dan terjadilah proses menstruasi.

3. Gangguan dalam menstruasi
Gangguan menstruasi adalah kelainan-kelainan pada keadaan menstruasi yang dapat berupa kelainan atau kelainan dari jumlah darah yang dikeluarkan dan lamanya perdarahan.

a. Definisi menorargia

Hipermenore adalah perdarahan berkepanjangan atau berlebihan pada waktu menstruasi teratur. Bisa disebut juga dengan perdarahan  haid yang jumlahnya banyak hingga 6-7 hari, ganti pembalut 5-6 kali/hari tetapi masih memiliki siklus-siklus yang teratur.
Pada hipermenore perdarahan menstruasi berat berlangsung sekitar 8-10 hari dengan kehilangan darah lebih dari 80ml

b. Etiologi
  • 40-60% wanita yang mengaku mengalami perdarahan hebat saat haid tidak ada patologi pada sistem reproduksinya dan hal ini disebut perdarahan uterus disfungsional.
  • Penyebab lokal seperti : myomata, endometril polip, uterus retro versi, first menstrual period after childbirth or abortion (MPT), tumor sel granulosa di ovarium.
  • Penyakit sistemik, seperti hipertiroidisme dan gangguan perdarahan.
  • Penggunaan IUCD (Intra Uterine Contraceptive Device). Penggunaan IUCD akan meningkatkan aliran menstruasi.
  • Hypopalsia Uteri, menurut beratnya hipoplasia dapat mengakibatkan amenorrhoe (uterus sangat kecil), hipermenorrhoe (uterus kecil jadi luka kecil).
  • Astheni, Menorrhagia terjadi karena tonus otot pada umumnya kurang.
  • Sealama atau sesudah menderita suatu penyakit atau karena terlalu lelah, juga karena tonus otot kurang.
  • Hypertensi.
  • Decompensatio cordis.
  • Infeksi : endometriosis, salphingitis.
  • Retroflexio uteri, karena kandungan pembuluh darah balik.
  • Penyakit darah : Hemofili
c. Patofisiologi

Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi Gonadotropin releasing hormon (GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan Folicle-stimulating hormone (FSH). Hal ini pada gilirannya menyebabkan folikel di ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus, pelepasan leteinzing hormon (LH) dan FSH menghasilkan ovulasi. Perkembangan folikel menghasilkan esterogen yang berfungsi menstimulasi endometrium agar berproliferasi. Setelah ovum dilepaskan kadar FSH dan LH rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum akan berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum akan mensekresi progesteron. Progesteron menyebabkan poliferasi endometrium untuk berdeferemnsiasi dan stabilisasi. 14 hari setelah ovulasi terjadilah menstruasi. Menstruasi berasal dari dari peluruhan endometrium sebagai akibat dari penurunan kadar esterogen dan progesteron akibat involusi korpus luteum.
Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah menstruasi awal yang disebabkan oleh HPO axis yang belum matang. Siklus anovulasi juga terjadi pada beberapa kondisi patologis.
Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya stimulasi dari FSH, tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum yang terbentuk dan tidak ada progesteron yang disekresi. Endometrium berplroliferasi dengan cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi esterogen menurun dan mengakibatkan perdarahan. Kebanyakan siklus anovulasi berlangsung dengan pendarahan yang normal, namun ketidakstabilan poliferasi endometrium yang berlangsung tidak mengakibatkan pendarahan hebat.

d. Manifestasi klinis

Menorrhagia yang berat dapat menyebabkan anemia.
Gejala lain yang dapat menyertainya antara lain :
1)      Sakit kepala
2)      Kelemahan
3)      Kelelahan
4)      Kesemutan pada kaki dan tangan
5)      Meriang
6)      Penurunan konsentrasi

e. Terapi
Terapi spesifik untuk menorrhagia diberikan berdasarkan :
1)      Umur dan riwayat kesehatan
2)      Kondisi sebelumnya
3)      Toleransi pada terapi pengobatan spesifik

Terapi untuk menorrhagia, yaitu :
1)      Suplemen zat besi (jika  kondisi menorrhagia disertai anemia, kelainan darah yang disebabkan oleh defisiensi sel darah merah atu hemoglobin).
2)      Prostaglandin inhibitor seperti medications (NSAID), seperti aspirin atau ibuprofen.
3)      Kontrasepsi oral (ovulation inhibitor)
4)      Progesteron (terapi hormon)
5)      Hysteroctomy (operasi untuk menghilangkan uterus)
 
4. Asuhan Keperawatan
a.      Pengkajian
a)        Data Subjektif
1.    Biodata
Nama , umur, agama, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat, dan status.
2.    Alasan Datang
Untuk memeriksakan masalah haidnya yang banyaknya berlebihan
3.    Keluhan Utama
Haidnya berlangsung lama dan darah yang keluar banyak
4.    Riwayat Kesehatan yang lalu
Gangguan metabolisme estrogen, Penurunan sintesis fibrinogen dan faktor pembukuan idiopathic trombositopenia (ITP) , penyakit von willebran, Infeksi ( biasanya terkait PRP, penggunaan AKDR, atau prosedur lanjtan intrauteri yang berbasis instrumen), Endometriosis, Salpingitis

5.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Menoragi dapat disebabkan oleh leimioma (seringkali submukosa), komplikasi kehamilan, hiperplasia endometrium, adenomiosis, keganasan atau koagulopati.

6.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Perawat juga harus mengkaji setiap pola perdarahan yang serupa atau kondisi ginekologis mayor yang dialami oleh ibu atau saudara perempuannya apakah mengalami riwayat kelainan hematologis terutama yang berhubungan dengan adanya penggumpalan darah.

7.    Riwayat Haid
Perawat harus menyelidiki lama, warna, dan karakter menstruasi yang muncul, terutama jika terjadi gumpalan darah.  
Menarche              : Pertama kali haid
Siklus                    : Teratur
Lamanya               : menstruasi berlangsung lebih dari 7 hari
Banyaknya           : 3-4 pembalut atau tampon sudah penuh selama 4 jam. Dalam setiap perdarahan yang lebih dari 80 cc dinyatakan perdarahan abnormal
Keluhan                : Dismenorhae / tidak

8.    Riwayat KB
Menstruasi (menorragia) dapat terjadi akibat Iatrogenik: misal akibat pemakaian IUD, hormon steroid, obat-obatan kemoterapi, obat-obatan anti-inflamasidan obat-obatan antikoagulan penyebab kontrasepsi (AKDR, kontrasepsi oral)

b)        Data Objektif
1.    Pemeriksaan Umum
KU                        : Baik/cukup/kurang
Kesadaran             : Composmentis
TD                                    : Normal (100/60 – 140/90) mmHg
Suhu                     : Normal (36,5°-37,5° C)
Nadi                      : Normal (60-90 x / menit)
RR                                    : Normal (16-24 x/ menit)
2.    Pemeriuksaan Fisik
1)   Inspeksi
Rambut         : Bersih, tidak rontok
Muka            : pucat
Mata              : Konjungtiva pucat, sklera putih
Leher            : Tidak tampak pembesaran vena jugularis dan tampak pembesaran kelenjar tiroid

Dada             : Bersih, payudara simetris
Abdomen      : Bersih
Genetallia      : Pengeluaran darah lebih dari 80 cc
Vagina dan serviks harus dikaji terhadap adanya massa, lesi, infeksi, atau adanya benda asing yang dapat menyebabkan menstruasi lebih berat.
Ekstremitas   : Simetris, tidak odem, tidak varises

2)   Palpasi
Leher            : Teraba pembesaran kelenjar tiroid
Abdomen      : Ada nyeri tekan pada hepar dan atau ginjal
Ekstremitas   : Tidak oedem, tidak varises

3)   Pemeriksaan dalam
Vulva vagina : Terlihat pengeluaran darah
                        Pemeriksaan panggul teraba massa yang merupakan indikasi mioma atau fibroid

4)   Pemeriksaan penunjang
Hb            : kategori anemia jika Hb ≤ 10g%
Metode yang mungkin paling meyakinkan untuk menetukan apakah aliran menstruasi individu memiliki kemungkinan dapat menimbulkan bahaya adalah dengan mendapatkan nilai lab Hb dan hematokrit untuk menyingkirkan anemia.



b.      Diagnosa Keperawatan

a.      Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan peningkatan kontraksi uterus selama fase menstruasi.
b.      Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan perdarahan
c.       Resiko gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya gangguan menstruasi.
d.   Kurang pengetahuan tentang gangguan menstruasi dan terapinya berhubungan dengan kurang informasi.

c.       Intervensi Keperawatan

1.      Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan peningkatan kontraksi uterus selama fase menstruasi.

Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam nyeri klien akan berkurang.
Kriteria hasil: klien mengatakan nyeri berkurang, klien tidak memegang punggung, kepala atau daerah lainnya yang sakit, keringat berkurang.

Intervensi :
1.      Pantau/ catat karakteristik nyeri ( respon verbal, non verbal, dan responhemodinamik) klien.
R/ : untuk mendapatkan indicator nyeri. 
2.      Kaji intensitas nyeri dengan menggunakan skala 0-10.
R/ : Nyeri merupakan pengalaman subyektif klien dan metode skala merupakan metode yang mudah serta terpercaya untuk menentukan intensitas nyeri.
3.      Jelaskan penyebab nyeri klien.
R/ : Dengan mengetahui penyebab nyeri klien dapat bertoleransi terhadap nyeri.
4.      Bantu untuk melakukan tindakan relaksasi, distraksi
R/ :  Relaksasi nafas dalam membantu mengurangi nyeri dan distraksi mengalihkan perhatian
5.      Lakukan kompres/mandi air panas.
R/ : meningkatkan sirkulasi dan menurunkan kontraksi uterus sehingga iskemia tidak terjadi.
6.      Kolaborasi pemberian analgetik ( ibuprofen, naproksen, ponstan)
R/ : membantu mengurangi nyeri

2.      Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan perdarahan.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan 3x24 jam, risiko kurangnya volume cairan tidak terjadi.
Kriteria hasil :
• Turgor kulit baik baik.
• Mukosa bibir tidak kering.
• Kelopa mata tidak cekung.
• Klien tidak haus.

Intervensi :
1.      Kaji status hidrasi pada klien.
R/ : Mengetahui tingkat hidrasi pada klien
2.      Catat intake output cairan dan banyaknya perdarahan
R/ : Mengetahui masukan dan pengeluaran cairan
3.      Anjurkan klien untuk minum air putih secara adekuat (2,5L/hari)
R/ : Menggantikan cairan yang hilang
4.      Jelaskan pada klien penyebabnya pendarahan dan rencana tindakan keperawatan selanjutnya.
R / : Agar klien mengetahui tentang kondisinya dan tindakan yang diberikan selanjutnya.
5.      Kolaborasi pemberian cairan parenteral( jika diperlukan).
R / : menggantikan cairan yang hilang.



3.      Resiko gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya gangguan menstruasi.

Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan 2 x 24 jam citra diri klien akan meningkat.
Kriteria hasil : klien mengatakan tidak malu, merasa berguna, penampilan klien rapi, menerima apa yang sedang terjadi.
Intervensi:
1.      Bina hubungan saling percaya dengan klien.
R/ : Klien dengan mudah mengungkapkan masalahnya hanya kepada orang yang dipercayainya.
2.      Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan, pikiran, dan pandangan tentangdirinya.
R/ : Meningkatkan kewaspadaan diri klien dan membantu perawat dalam membuat penyelesaian.
3.      Diskusikan dengan system pendukung klien tentang perlunya menyampaikan nilai dan arti klien bagi mereka.
R/ : Penyampaian arti dan nilai klien dari system pendukung membuat klien merasaditerima.
4.      Libatkan klien pada setiap kegiatan di kelompok.
R/ : Memungkinkan menerima stimulus social dan intelektual yang dapat meningkatkankonsep diri klien.
5.      Informasikan dan diskusikan dengan jujur dan terbuka tentang pilihan penanganan gangguan menstruasi seperti ke klinik kewanitaan, dokter ahli kebidanan.
R/ : Jujur dan terbuka dapat mengontrol perasaan klien dan informasi yang diberikan dapatmembuat klien mencari penanganan terhadap masalah yang dihadapinya.



4.      Kurang pengetahuan tentang gangguan menstruasi dan terapinya berhubungan dengan kurang informasi.

Tujuan: setelah diberikan penyuluhan klien akan mengetahui tentang gangguan menstruasi
Kriteria hasil: klien menyebutkan jenis gangguan menstruasi, penyebab, gejalanya, serta penanganannya, menjelaskan menstruasi yang normal.

Intervensi :
1.      Kaji tingkat pengetahuan klien mengenai menstruasi yang normal, jenis gangguan menstruasi, penyebab, gejala dan penanganannya.
R/ : Mengidentifikasi luasnya masalah klien dan perlunya intervensi. 
2.      Jelaskan mengenai siklus menstruasi yang normal, jenis gangguan menstruasi, penyebab, gejala, dan penanganannya.
R/ : Dengan memiliki pengetahuan tentang menstruasi klien dapat meningkatkan toleransi terhadap nyeri dan dapat mencari jalan keluar untuk masalah gangguan menstruasinya.
3.      Beri kesempatan klien untuk bertanya.
R/ : Meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang menstruasi.
4.      Berikan penjelasan tentang penyakit yang dialami.
R / : Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit yang dialami.

d.      Evaluasi

a.       Nyeri (akut/kronik) berkurang/hilang
b.      Tidak terjadi risiko kekurangan volume cairan
c.       Citra diri klien akan meningkat
d.      Pengetahuan klien akan meningkat




DAFTAR PUSTAKA

Benson, Ralph C.2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi.Jakarta:EGC
Varney,Helen.2007. Buku ajar Asuhan kebidanan. Jakarta:EGC
www.scrib.com diakses tanggal 10 November 2015 jam 10.00
Yanto Kadarusman.2000. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta:EGC
(Helen varney 2007 342-345 Jakarta EGC Buku ajar Asuhan kebidanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar